Senin, 25 Juli 2011

OBSERVASI DESA PUSSUI INDUK


Tugas Kelompok
Ilmu Kesehatan Masyarakat
Observasi Desa Pussui Induk
Kec. Luyo, Kab. Polewali mandar
OLEH :
Kelompok 1

Nurma Waddah
Herna Nengsi
Nini Eka Wati
Andi Arwini

Yayasan pendidikan bina generasi
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA GENERASI
PROGRAM STUDY D III KEBIDANAN
POLEWALI MANDAR
2010/2011

Tugas Observasi Desa
Praktek Aplikasi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa & Primary Health Care

Artikel  Kesehatan Desa Pussui Induk

            Di sinilah .. di Desa Pussui kami melakukan observasi Desa. Desa Pussui terdiri dari 8 dusun, yaitu : Dusun Pariangan, Dusun Pussanggera, Dusun Pattemarang, Dusun Maramba, Dusun Lambe Panda, Dusun Puttapi, & Dusun Lagusi. Desa yang terletak sekitar ± 20 km dari pusat kota wonomulyo ini. Dan berjarak sekitar ± 15 km dari Puskesmas Batupanga.
Hari pertama didesa ini, kami sempat tersenyum, menyaksikan bagaimana ilmu kesehatan masyarakat itu di aplikasikan oleh bidan yang bertugas disini,  kemitraan yang terjalin antara dukun dan bidan sangat baik, dimana dua dusun yang kami kaji, yaitu dusun pariangan dan dusun pusanggera pertolongan persalinannya dilakukan secara kolaborasi antara dukun dan bidan. Bahkan rumah antara dukun dan pustu berdekatan terlebih dengan ikut andilnya kepala desa pussui mengajak dukun tersebut yang biasa di panggil “kanne minna” oleh masyarakat desa tersebut untuk melakukan setiap pertolongan persalinan dengan bidan.
Di dua dusun yang termasuk sebagai tempat pemerintahan dan yang paling mudah di akses, disini sanitasi, & MCK nya sudah lumayan baik, karena dari hasil observasi yang kami lakukan sekitar 80% rumah penduduk didua dusun ini sudah mempunyai jamban serta sumber air bersih, yaitu sumur. Namun, mirisnya masih ada saja kandang ternak dibawah kolong rumah mereka.  Serta masih banyak anak-anak di desa ini yang sering bermain tanpa menggunakan alas kaki.
Dari hasil wawancara yang kami lakukan di dusun pussanggera dan dusun pariangan ini, rata-rata masyarakat mengeluhkan penyakit gastritis, diare dan gatal-gatal data ini di dukung dari hasil wawancara kami dengan bidan Hasnawati yang juga merupakan alumni pertama STIKes Bina Genersasi Polewali Mandar. Bidan hasnawati ini aktif menurut penuturan masyarakat yang kami observasi, beliau aktif melakukan kegiatan kemasyarakatan, contohnya imunisasi di  PUSTU yang dilakukan setiap tanggal 25 untuk dusun pariangan, dusun pussanggera, dusun puttapi dan dusun lagusi.  Dan setiap tanggal 15 untuk dusun pattemaran, meramba dan lambe panda, di 3 dusun ini, bidan biasanya harus berjalan kaki sejauh ± 2 km, bila jalanan tidak bisa di lewati oleh kendaraan roda dua. Bidan juga katif melalukan PUSKEL setiap 2 bulan sekali yang bekerja sama dengan kadernya.
Hari kedua melakukan observasi di daerah ini, tujuan kami selanjutnya adalah dusun pattemaran, meramba dan lambe panda. Disini akses ke dusun sangat sulit 3 kali melintasi sungai, naik turun gunung serta jalanan yang sangat tindak mendukung. Tanah liat bercampur dengan air hujan, namun tidak menghalangi niat kami untuk tetap sampai ke tiga dusun ini.
Observasi pertama kami lakukan di dusun meramba, masyarakat di dusun  ini masih sering mengeluhkan tentang penyakit gatal-gatal, fasilitas MCK masih sangat minim karena sebagaian masyarakat masih memanfaatkan “WC terpanjang didunia” untuk melakukan aktivitas sehari-harinya seperri BAB, mandi dan mencuci. Serta jarak kandang ternak yang masih banyak di bawah rumah warga.
Selanjutnya adalah dusun pattemaran, untuk sampai di dusun kami harus melintasi 1 sungai dan 1 pendakian terjal yang sukses membuat kami “mencium tanah air” . tapi perjalanan ini tidak sia-sia, kami berhasil melakukan observasi langsung dengan kepala dusun , menurut penuturan kepala dusun penyakit yang paling sering di derita masyarakat di dusun ini adalah gatal-gatal, gastritis dan diare, tidak ada posyandu serta persalinan yang masih di tolong oleh dukun, bahkan dirumah Ka. Dusun sekalipun kami tidak menemukan jamban , atau cubluk sederhana sekalipun.
Berbekal dari penuturan kepala dusun tersebut kami pun bergegas menuju kerumah dukun yang menolong persalinan yang akrab disapa “Kanne Poho”.  Dalam melakukan perolongan partus dukun ini hanya mengandalkan insting/perasaannya, tidak ada pemeriksaan dalam karena menurut beliau hal tersebut pamali untuk dilakukan, Bahkan bila ada komplikasi dukun tersebut masih melanjutkan pertolongan persalinan semampunya, beliau mengaku pernah berkolaborasi dengan bidan.
Dukun yang sudah bertahun-tahun menjadi “sando piana” ini  juga menggunakan peralatan Dukun Kit dalam melakukan pertolongan persalinan. Menurut beliau bahwa persalinan itu, adalah mekanisme ibu dan bayi itu sendiri untuk keluar.
“Kalau sakit 2 hari di bawa ke dukun saja…..
“di tiup-tiup”saja sama dukun, nanti juga sembuh..
Dari pada di bawa ke Bidan
Jauh…. “ ujar Ny.otong
Perjalanan kami lanjutkan ke dusun lambepanda, kami harus berjalan kaki, karena jalanan kedusun ini sangat bersiko untuk dilalui oleh kendaraan roda dua apalagi saat itu cuaca sangat tidak mendukung, gerimis menyambut kedatangan kami didusun lambe panda. Didusun yang berpenduduk sekitar 71 KK atau yang berpenghuni sekitar 315 orang ini kami mendapatkan masalah kesehatan yang lebih komplit, Wc jarang bahkan hampir tidak kami temukan karena semua masyarakat di dusun ini masih ke sungai untuk MCK, kandang ternak rata-rata masih di bawah kolong rumah warga, penyakit yang paling sering di keluhkan warga adalah gatal-gatal, diare dan reumatik. Bahkan pertolongan persalinan di dusun ini ditolong oleh laki-laki. Namun, saat kami kerumah pua’ ammang (dukun kampung) ini kami tidak bertemu, karena berhubung beliau sedang ke kebun untuk mencari makanan kambing yang beliau ternakkan di bawah kolong rumahnya,
Disini kami hanya berbicara dengan adik beliau, Ny. Otong, beliau mengeluhkan penyakit anaknya (An. Issabela, 2 thn) yang sudah lima hari belakangan demam, dan muncul bentol-bentol gatal di daerah kepala yang disertai dengahn pengeluaran nanah, imunisasi yang tidak lengkap, karena jarak antara rumah dan Pustu yang cukup jauh, terlebih dengan susahnya akses jalan. Beliau hanya mengandalkan obat tradisional yaitu menempelkan daun paria di daerah bentol-bentol anaknya dan “tiup-tiup dukun” .  selanjutnya beliau membawa kami ke dapur belakang rumahnya, disana iparnya (istri pua ammang) sedang terbaring lemah, katanya sudah sekitar 2 hari hanya bisa berbaring di rumah tanpa melakukan aktivtas apa-apa, saat kami bertanya “kenapa tidak dibawa ke Bidan untuk periksa?” Ny. Otong hanya menjawab Kalau sakit 2 hari di bawa ke dukun saja….. “di tiup-tiup”saja sama dukun, nanti juga sembuh. Dari pada di bawa ke Bidan Jauh…. “ ujar Ny.otong sambil melap dengan kain sarung nanah di kepala anaknya. Miris memang, sekalipun dusun ini sudah tersentuh oleh tenaga kesehatan masih saja kurangnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan, serta tidak mendukungnya medan untuk dilalui.
Hari ketiga observasi kami lanjutkan di dusun puttapi dan lagusi. Disini kami melihat permasalahan kesehatan yang lebih kompleks, bayangkan saja untuk dua dusun ini, pertolongan persalinannya hanya di tolong oleh dukun kampung laki-laki. Pria 50 tahun yang akrab di pua’ hawa (Tn. Keccung) mengaku selama 2 tahun terkahir ini menjadi “sando” tidak hanya menolong persalinan, pua’ hawa juga mengaku bisa mengobati masalah kesehatan lain, seperti diare, cacingan, gatal serta masalah kesehatan yang sering di keluhkan oleh masyarakat. Dengan cara memanfaatkan tanamam-tanaman dari hutan di tambah dengan “tiup-tiup” dari pua’ hawa.
Bahkan dalam melakukan praktek pertolongan persalinannya, pua’ hawa mengaku tidak pernah berkolaborasi dengan bidan atau tenaga kesehatan lain, saat ibu sudah merasakan sakit karena kontraksi pua’ hawa biasanya memberikan minyak kelapa yang khasiatnya katanya “supaya bayi cepat keluar”. Lebih parah lagi karena saat melakukan pemotongan tali pusat ia hanya menggunakan belati (bambu yang di iris tipis agar sudutnya tajam dan bisa memotong plasenta).
Selama 2 tahun menjadi dukun kampung, pua’ hawa mengatakan tidak pernah menemukan adanya komplikasi yang mengakibatkan bayi atau ibunya meninggal, apabila si ibu mengalami perdarahan, pua’ hawa hanya memberi air minum yang katanya sudah di jampi-jampi. Dan anehnya lagi, kata pua’ hawa rata-rata ibu hamil disini memeriksakan kandunganya kepada beliau.
Selanjutnya kami melakukan wawancara kepada masyarakat dusun lagusi, masyarakat disini mengaku rata-rata permasalahan kesehatan yang ada di daerah ini adalah diare, cacingan, dan gatal-gatal, rata-rata bayi merka jarang di imunisasi, di perparah lagi di sepanjang jalan yang kami lalui kami tidak menemukan ada WC/kakus. Hanya satu itu di depan rumah kepala dusun, yang belum layak di sebut WC, karena hanya cubluk sederhana. Di tambahi lagi dengan kondisinya dinding sengnya yang sudah rapuh, masyarkat mengaku untuk MCK mereka terbiasa melakukannya di sungai. Jarang ada sumur, bahkan mereka biasa mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari di sungai. Miris, padahal tenaga kesehatan di dusun ini sudah sering melakukan penyuluhan kepada masyarakat, kepala desa pun sudah sering menganjurkan masyarakatnya untuk membuat WC, minimal cubluk sederhana.
Dusun terakhir yang kami observasi adalah dusun puttapi, dusun yang terletak di atas puncak gunung ini, masih begitu asri. Tapi sayang rata-rata bayi di dusun ini menderita sesak nafas dan batuk-batuk, menurut analisis kami ini dikarenakan masih banyaknya kandang ternak di rumah warga. Di tambah lain yang memang sudah penyakit yang rata-rata oleh masyarakat dusun lain didaerah ini, yaitu diare dan gatal-gatal, jarangnya WC di daerah ini menurut kami adalah masalah utama penyakit tersebut.

Inilah hasil dari observasi yang kami lakukan,  menurt analisis dan kesimpulan yang dapat kami tarik dari permasalahan kesehatan dalam melakukan pembangunan kesehatan masyrakat desa & upaya primary helath care di desa Pussui Induk ini dapat di lakukan dengan cara :
1.     Untuk satu bidan satu desa, kami rasa itu belum bisa memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat, di tambah lagi karena jarak antar dusun yang cukup jauh karena di pisahkan oleh gunung dan sungai.
2.    Penambahan mantri/perawat di harap bisa mengatasi permasalahan kesehatan ini. Minimal untuk melakukan pengobatan langsung kepada masyarakat.
3.    Peran aktif kader sangat di butuhkan, sebagai deteksi dini terhadap masalah kesehatan yang ada di masyarakat dan sebagai penyuluh langsung kepada masyarakat.
4.    Kesadaran akan kesehatan oleh masyarakat itu sendiri, merupakan kunci utama peningkatan kesehatan, karena percuma melakukan penyuluhan-penyuluhan apabila masyarakatnya tidak secara sadar melakukan perubahan langsung terhadap dirinya,
5.    Peran pemerintah, agar bisa membuka akses kepada masyarakat di desa terpencil. Supaya mereka juga bisa merasakan hidup sehat dan terhindar dari penyakit.

Terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu observasi desa yang kami lakukan.
Kelompok l


Juni, 2011


         


Jumat, 27 Mei 2011

KOTA TERPADU MANDIRI TOBADAK

I.
Gambaran Umum Kawasan
 
Provinsi Sulawesi Barat merupakan provinsi baru hasil pemekaran provinsi Sulawesi Selatan yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2004. Hingga saat ini Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat terus melaksanakan pembangunan di berbagai bidang agar dapat segera mensejajarkan diri dengan Provinsi lainnya.

Kekayaan sumber daya alam Provinsi Sulawesi barat mendukung perkembangan Sulawesi Barat. Selain terdapat cukup banyak lahan untuk pembangunan berbagai komoditas unggulan, sumber daya hutan, deposit berbagai jenis bahan tambang serta sumber daya posisi dan kelautan masih belum digarap secara optimal. Semua potensi sumber daya alam tersebut dapat dikemas menjadi daya tarik investasi yang dapat membuka peluang usaha serta menciptakan banyak lapangan kerja. Untuk mempercepat perkembangan, maka perlu dilakukan upaya terobosan yang dimiliki bobot revatilisasi terhadap sejumlah sumber daya andalan, melalui pembangunan KTM.

Pemerintah Sulawesi Barat mengusulkan pembangunan KTM Tobadak sebagai pusat pertumb uhan ekonomi bagi kawasan Tobadak. Kawasan ini dibentuk oleh 22 unit permukiman transmigrasi yang sudah diserahkan dan 5 desa setempat. Disamping itu masih tersedia kurang lebih 49.000 ha lahan pengembangan yang dapat diintegrasikan ke dalam kawasan.

Kota terpadu mandiri (KTM) adalah kawasan transmigrasi yang pembangunannya dirancang menjadi pusat pertumbuhan yang mempunyai fungsi perkotaan melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Fungsi perkotaan yang dimaksud antara lain meliputi:
  1. Pusat kegiatan ekonomi wilayah
  2. Pusat kegiatan industri Pengolahan hasil
  3. Pusat pelayanan Jasa dan Perdagangan
  4. Pusat pelayanan Kesehatan
  5. Pusat pendidikan dan pelatihan
  6. Sarana Pemerintahan
  7. Fasilitas umum dan sosial
II.
Kondisi Geografis
 
Letak kawasan KTM Tobadak terletak di Kabupaten Mamuju dengan ibukotanya di Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Secara administratif kawasan ini tercakup dalam 3 kecamatan yaitu Topoyo, Tobadak dan Budong-budong, dengan luas kawasan +/- 107.500 Ha .

Secara geografis Kawasan Tobadak terletak di bagian Barat pulau Sulawesi dan berbatasan langsung dengan selat Makasar, yaitu:

  • ●Sebelah Utara berbatasan dengan Kec. Karossa
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kec. Pangale dan Tommo
  • Sebelah Barat berbatasan dengan selat Makassar
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kab. Lawu Utara.
Secara regional kawasan KTM Tobadak dilalui oleh jalan trans Sulawesi lintas Barat dari Makassar ke Palu ( Ibu kota Provinsi Sulteng). Kawasan Tobadak menghadap selat Sulawesi yang merupakan jalur ALKI (Alur laut Kepulauan Indonesia) dengan lalu lintas pelayaran yang cukup ramai, baik jalur untuk keluar negeri maupun kekota kota propinsi lain. Bagitu pula kawasan tobadak berhadapan dengan pantai timur pulau kalimantan yang merupakan kawasan industri (kota Balikpapan).
 
Kedudukan kawasan secara regional dengan pusat KTM di topoyo/tobadak merupakan orde III, kemudian mamuju sebagai ibukota Kabupaten sekaligus menjadi Ibukota Provinsi yang berjarak 115 Km menjadi Orde III yang berfungsi sebagai pusat Pemerintahan Kutub – kutub petumbuhan seperti Makassar (Prov.Sulsel), Palu (Prov.Sulteng), dan Balikpapan (Prov.Kaltim) sangat membantu pertumbahan kawasan ini secara Nasional. Pemerintah Sulawesi Barat mengusulkan Pembangunan KTM Tobadak sebagai pusat pertumbuhan ekonomi bagi kawasan Tobadak Kawasan ini dibantuk 22 unit pemukiman transmigrasi yang sudah diserahkan dan 5 desa setempat. Disamping itu masih tersedia kurang lebih 49.500 ha lahan pengembangan yang dapat diintegrasikan ke dalam kawasan.
III.
Pencapaian Lokasi
 
Kawasan KTM Tobadak terletak di kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi barat. Kawasan ini dapat dicapai dengan pesawat udara dari Makasar sampai menuju (Ibu Kota Kabupaten ) dengan waktu tempuh kurang lebih 2,5 jam atau melalui jalan darat dari makasar dengan waktu tempuh 10 jam. Kawasan KTM Tobadak dapat juga ditempuh dari Balikpapan dengan menggunakan pesawat udara sampai di Mamuju dengan waktu 1 jam atau dapat menggunakan ferry menyebrangi Selat Makassar dengan waktu 8 jam
IV.
Kesesuaian Lahan
 
Luas lahan Kawasan KTM Tobadak adalah 107. 500 Ha Terdiri atas 54 % lahan datar dan 46 % lahan bergelombang dengan jenis tanah meliputi Entrisol (37,7 %), Histosol ( 25,77%) dan Inceptisol (36,51 %) Secara umum lahan di kawasan ini cocok untuk perkebunanan / pertanian karena tanahnya yang subur curah hujan bulanan 274,5 mm . Kawasan KTM Tobadak terdiri atas 7 (tujuh ) satuan Peta lahan, yang pada umumnya sesuai untuk tanaman padi sawah. Tanaman Pangan Lahan Kering (TPLK) maupun tanaman tahunan/ perkebunan (kelapa sawit ,cacao,jeruk) dengan sebaran luasan sbb : padi swah 60,653 Ha (56,37 %), TPLK seluas 82,576 Ha (76,75% ) dan Tanaman tahunan seluas 82,981 Ha (77,12 %).
   
IV
Kondisi Sosial Ekonomi

a.
Penduduk
Jumlah penduduk di kawasan Tobadak saat ini berjumlah +/- 15.518 KK atau 65.879 jiwa, yang terdiri atas penduduk transmigrans 10.941 KK (71%) dan penduduk setempat 4.577 KK (29%).

Gambaran sebaran penduduk transmigrans di kawasan KTM Tobadak adalah sebagai berikut: Kecamatan Topoyo = 5.301 KK atau 23.509 Jiwa, Kecamatan Tobadak = 5.476 KK atau 21.371 jiwa, Kecamatan Budong-budong = 4.741 KK atau 20.999 jiwa. Jumlah keseluruhan = 15.518 KK atau 65.879 jiwa.
b.
Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk dan beragamnya potensi alam maupun modal yang tersedia akan memberikan warna terhadap keragaman jenis lapangan pekerjaan yang dilakukan. Hasil pengamatan tim bahwa jenis lapangan pekerjaan yang banyak diusahakan adalah : sektor Pertanian , Perdagangan, dan Jasa . Penduduk Kawasan Tobadak bekarja pada sektor pertanian sebesar ( 80% ) dan jenis tanaman yang dibudidayakan selain tanaman pangan adalah kelapa sawit, cacao dan jeruk. Total luas areal perkebunan untuk komoditi kelapa sawit, cacao dan jeruk kurang lebih +/- 25.000 Ha dengan jumalah produksi +/- 90.000 Ton .Tanaman cacao merupakan luasan paling luas yaitu ± 20.000 Ha dengan produksi 11,000 Ton. Pengahsilan penduduk yang bertani didaerah ini cukup tinggi yakni rata- rata sebesar Rp. 4 Juta perbulan dan bahkan beberapa petani mendapatkan hasil Rp,15 juta perbulan. Selain itu penghasilan dari petani jeruk mendapatkan penghasilan hasil sebesar Rp 35. Juta.

Selain sektor pertanian sebahagian penduduk juga bekerja pada sektor perikanan yang membudidayakan rumput laut, bandeng dan udang dan penduduk yang bekerja pada sektor peternakan adalah berternak sapi, kambing, ayam buras.

Bila diperhatikan dari PRD Kabupaten penghasilan sektor pertanian merupakan penyumbang yang paling besar yakni sekitar ± 33,54 % , selanjutnya adalah sektor Perhotelan dan restoran sebesar 18,19 %, selanjutnya sektor industri pengolahan 12.54 %, sektor jasa 12,16 %, sektor anggkutan dan telekomunikasi 8,57 %, sektor bangunan 4,53 %, sektor jasa persewaan 4,56 %, sektor pertambangan 4,42 % dan sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 1,49 %.

Melihat dari persentase penyumbang PDRB tersebut, bahwa sektor pertanian menjadi sektor penymbang tersebar dibandingkan sektor lainnya. Dengan demikian bahwa lahan yang tersedia untuk pengembangan pertanian / perkebunan harus dikelola secara profesional dengan mengundang para investor untuk ikut berpartisipasi baik dari usaha hulu sampai dengan hilir.
c.
Prasarana dan Sarana Perekonomian
Sarana perekonomian yang telah tersedia di Kawasan ini antara lain koperasi, pasar dan perbankan (BNI, BRI, BPD) telah beroperasi, sedangkan sarana lainnya adalah :
  • Bandara Udara (Tampang pandang ) berjarak 27 Km dari kota Mamuju
  • Pelabuhan samudera Belang – belang bakengkeng di Kab.Mamju
  • Pelabuhan Ferry Simboro di Mamuju yang menghubungkan Mamuju – Balikpapan (Kaltim) – Batulicin (Kalsel) – dan Surabaya (Jawa Timur ).
  • Pelabuhan Ujung Polewi di Polewali Mandar
  • Pelabuhan rakyat Palili di Majene
  • Pelabuhan ikan Manakarra di Mamuju
  • Pelabuhan laut yang dikelola oleh swasta nasional di kab. Mamuju dan Mamuju Utara.
d. Fasilitas Umum
  • Sarana Kesehatan : Sarana kesehatan di kawasan Tobadak terdiri dari 29 puskesmas, dan 51 unit posyandu serta tenaga medis yang terdiri dari : Dokter, Perawat, Bidan dan Dukun Bayi, dengan sebaran sebagai berikut:
  • Sarana Peribadatan : Fasilitas peribadatan yang berada di kawasan Tobadak, antara lain Masjid 14 unit, Musholla 11 unit, gereja dan vihara 1 unit.
  • Sarana perdagangan : Fasilitas perdagangan dan jasa di kawasan Tobadak meliputi Pasar, Pertokoan, Warung/kelontong, dengan sebaran sebagai berikut: Kec. Topoyo 4 unit pasar, Tobadak 4 unit, dan kec. Budong-budong 6 unit.
e.
Sarana Transportasi
Sistem transportasi kawasan ini didominasi oleh sarana transportasi darat. Kabupaten Mamuju dilalui oleh jalan trans Sulawesi bagian barat dari Makassar - Palu (Sulteng), sehingga diharpkan dapat mendukung kegiatan perekonomian kawasan ini.

Disamping transporasi darat kawasan Tobadak terdapat transportasi laut dengan adanya pelabuhan pelayaran Belang-Belang di Mamuju, serta pelabuhan penumpang/ferry Simboro yang menghubungkan Mamuju dengan pulau sekitarnya. Begitu pula dengan transportasi udara terdapat pelabuhan udara Tampa Padang berjarak 27 km dari Mamuju. Pelabuhan udara ini melayani route Mamuju-Makassar dan sekitarnya
f. Sarana Listrik
Pada umumnya kawasan Tobadak telah dilayani oleh jaringan listrik dari PLN dan jumlah pelanggan berjumlah 6.994 pelanggan yang tersebar di setiap kecamatan .
g. Sarana Telekomunikasi
Jaringan telekomunikasi dikawasan KTM Tobadak penggunaannya terbatas pada telepon seluler saja dengan operator telkomsel, sedangkab telepon kabel masih terbatas .
h. Sarana Jaringan Air Bersih
Kebutuhan air bersih untuk rumah tangga diakwasan ini belum terlayani oleh PDAM, dan warga masih memanfaatkan air berasal dari sumur gali dan mata air sungai.
V.
Rencana Pengembangan Kawasan
 
Luas KTM Tobadak yang direncanakan adalah seluas 107.500 Ha , dengan pusat KTM didesa Topoyo. Rencna struktur pengembangan kawasan Tobadak direncanakan dalam 5 satuan kawasan pengembangan (SKP), dimana 4 kawasan diantaranya adalah areal revitalisasi dan 1 skp merupakan areal pengembangan baru.
 

1.
Areal Revitalisasi meliputi :
  • SKP A : diarahkan untuk pengembangan pertanian tanaman hortikultura, buah-buahan (Jeruk), dan tanaman pangan(padi dan palawija) serta pengembangan tanaman Sawit dan Cacao dengan pusat pengembangan di Topoyo seluas 10.111 Ha
  • SKP B : diarahkan untuk pengembangan tanaman hortikultura buah-buahan(Jeruk) dan tanaman pangan (padi, jagung dan ubi kayu) serta pengembangan tanaman kelapa sawit, Cacao dengan pusat pelayanan Desa Tobadak dan Luas 14.370 Ha
  • SKP C : diarahkan untuk pengembangan tanaman hortikultura buah-buahan(Jeruk) dan tanaman pangan (padi, jagung dan ubi kayu) serta pengembangan tanaman kelapa sawit, Cacao dengan pusat pelayanan Desa Salogata dengan Luas 13.212 Ha
  • SKP D : diarahkan untuk pengembangan tanaman hortikultura buah-buahan(Jeruk) dan tanaman pangan (padi, jagung dan ubi kayu) serta pengembangan perikanan laut dan tambak, dengan pusat pelayanan di Desa Babana dengan luas 6.622 Ha
2.
Areal Pengembangan yang diarahkan kepada sektor swasta yang terintegrasi dengan pengembangan lahan-lahan usaha transmigrasi, dimana diharapkan kebun-kebun swasta akan berperan sebagai inti dan kebun transmigran menjadi plasma. Potensi wilayah yang siap dikerjasamakan dengan adalah seluas ± 10.351 Ha. Selain itu direncanakan pengembangan hutan rakyat pada areal yang berstatus HPB seluas ± 24.544 Ha, ditujukan dalam upaya merehabilitasi lahan kritis dan pengelolaannya dapat bekerja sama dengan pemerintah (Cq. Depnakertrans dan Dephut). Di areal ini direncanakan akan dibangun fasilitas untuk mendukung pusat KTM Tobadak
VI.
Komoditas Unggulan

A. Komoditas Unggulan
 
Komoditas Unggulan di Kawasan KTM yang berskala ekonomi cukup baik yaitu salah satu komoditi yang sesuai dan telah diusahakan masyarakat setempat adalah Kelapa Sawit,Cacao dan Jeruk, seluas 18.195 Ha ,Sebagai gambaran produksi per tahun yang diusahakan adalah sbb:
No.
JENIS KOMODITI
LUAS TANAM (Ha)
PRODUKSI (Ton/Th)
PRODUKTIVITAS (Ton/Ha)
JUMLAH PETANI (Orang)
RENCANA LUAS PENGEMBANGAN (Ha)
1
Kelapa Sawit
1.320
 
10
5.176
10.351
2
Cacao
14.307
6.738
0,56
5.476
Intensifikasi
3
Jeruk
4.972
5.653
6,96
3.101
6.149
   
18.195
    13.753
15.500
Proyeksi produksi lima tahun kedepan untuk jeruk sebesar 29.179 ton,kelapa sawit 100.351 ton serta cacao secara intensifikasi dapat meningkat produktifitasnya.
Usaha pengembanan komoditi unggulan yaitu kelapa sawit, cacao dan jeruk menjadikan peluang investasi bagi investor untuk mengembangkan usahanya baik dari sektor hulu hingga sektor hilir di kawasan Tobadak ini.
Peluang investasi selama 3 tahun berdasarkan analisis dbutuhkan dana sebesar Rp.359,7 M seperti yang tertera dibawah ini :
No
Komoditi
Peluang Ivestasi
Penyerapan Tenaga Kerja (Org)
Pembangunan Pabrik
Investasi (milyar)
1
Kelapa sawit PKS
135,3 M
3.415
2
Cacao Pengeringan & bubuk coklat
72,4 M
5.476
3
Jeruk Pemeras Jeruk
152 M
24.596
Untuk kebutuhan dana dalam rangka pembangunan KTM Tobadak diperkirakan dengan rincian sebagai berikut :
No.
Kegiatan
Jumlah Rp.
(dalam ribuan)
Keterangan
1 Perencanaan
3.275.000
 
2 Peningkatan Infrastruktur & Pemukiman
325.235.000
 
3 Pembangunan.Ekonomi Masyarakat
25.000.000
 
4 Pembang.Sosial Budaya
3.000.000
 
  Jumlah
365.510.000
 
Sehingga jumlah keseluruhan total pembangunan KTM Tobadak adalah sebesar Rp.716,21 Milyard, direncanakan sumber dana dari APBN dan APBD sebesar Rp.365,51 Milyard dan sumber dana Swasta Rp.359,7 Milyard
VII.
Peluang Bisnis
 
Kawasan KTM Tobadak berdasarkan data profil kawasan mempunyai wilayah yang sangat kaya akan berbagai komoditas unggulan, sumber daya hutan, deposit berbagai jenis bahan tambang serta sumber daya kelautan yang masih belum digarap secara optimal. Disamping itu sarana perekonomian sudah cukup baik dan akan segera berkembang diwilayah ini. Perlu diketahui petani didaerah ini mempunyai income mencapai 4 s/d 15 juta perbulan, oleh karena itu berbagai peluang usaha untuk dikembangkan selain bidang pertanian,perikanan dan budidaya rumput laut berpeluang usaha bidang jasa dan perdagangan. Perlu diketahui bahwa kawasan ini akan cepat berkembang dalam segala bidang, sehingga bagi yang berniat untuk berusaha dikawasan ini agar menghubungi dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk mendapatkan informasi dan fasilitas yang dapat diberikan oleh pemerintah.