Jumat, 25 Maret 2011

RESUSITASI NEONATUS


A.   Pengertian resusitasi
Resusitasi neonatus merupakan suatu prosedur yang diaplikasikan untuk neonatus yang yang gagal bernafas secara spontan.
Sebuah sistem yang menjelaskan status klinis neonatus diperlukan untuk mengavaluasi hasil akhir persalinan dan untuk mendokumentasikan respon terhadap resusitasi. Untuk menentukan kebutuhan bayi terhadap resusitasi, tiga tanda skor afgar sangat penting pernafasan, warna dan denyut jantung. Semua neonatus harus diobservasi secara ketat selama jam pertama kehidupan.          
B.   Persiapan  Dan Cara Resusitasi
1.      Persetujuan tindakan medik
a.   Siapa ayah/wali pasien, sebutkan bahwa anda petugas yang diberi wewenang  untuk menjelaskan tindakan pada bayi.
b.      Jelaskan tentang diagnosis, penatalaksanaan dan komlikasi asfiksia neonatal.
c.       Jelaskan bahwa tindakan klinik juga mengandung risiko.
d.      Pastikan ayah/wali pasien memahami berbagai aspek tersebut diatas.
e.      Buat persetujuan tindakan medik, simpan dalam catatan medik.



1.      Persiapan resusitasi
a.   Persiapan keluarga
Sebelum menolong persalinan, bicarakan dengan keluarga mengenai kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu dan bayinya serta persiapan yang dilakukan oleh penolong untuk membantu kelancaran persalinan dan melakukan tindakan yang diperlukan.
b.   Persiapan tempat resusitasi
Persiapan yang diperlukan meliputi ruang bersalin dan tempat resusitasi. Gunakan ruangan yang hangat dan terang. Tempat resusitasi hendaknya rata,keras, bersih dan kering, misalnya meja, dipan atau diatas lantai beralas tikar. Kondisi yang rata diperlukan untuk mengatur posisi kepala bayi. Tempat resusitasi sebaiknya di dekat sumber pemanas (misalnya: lampu sorot) dan tidak banya tiupan angin (jendela atau pintu yang terbuka). Biasanya digunakan lampu sorot atau bohlam berdaya 60 watt atau lampu gas minyak bumi (petromax). Nyalakan lampu menjelang kelahiran bayi.
c.    Persiapan alat resusitasi
1.   Peralatan untuk mengisap lendir
a.      Bulb syringe
b.      Kateter pengisap (ukuran 5 atau 6,8,dan 10 Fr)
c.       Aspirator mekonium
d.      Pengisap dan pipa mekanik
e.      Pipa lambung ukuran 8 Fr dan spuit 20 cc
2.   Peralatan balon dan sungkup resusitasi
a.      Balon resusitasi bayi yang mampu memberikan oksigen 90-100% dan mempunyai katup pelepas tekanan/alat ukur tekanan.
b.      Oksigen dengan pengukuran aliran dan selang.
c.       Sungkup/masker wajah dengan pinggiran bantalan untuk ukuran bayi cukup bulan dan prematur.
d.      Kateter nasal (nasal prongs/kanul nasal).
e.      Oral airway, ukuran bayi cukup bulan dan prematur.
3.   Peralatan intubasi
a.   Laringoskop dengan daun lurus, ukuran 00 (sangat prematur), 0 (prematur), dan 1 (neonatus cukup bulan)
b.   Bola lampu dan baterai cadangan untuk laringoskop
c.    Pipa ET (ukuran 2,5;3;3,5 dan 4,0 mm)
d.   Gunting
e.   Sarung tangan
d.      Langkah Resusitasi
1.    Tempatkan bayi di bawah pemanas radian /infant warmer
2.   Letakkan bayi terlentang pada posisi setengah tengadah untuk membukajalan nafas. Sebuah gulungan handuk diletakkan dibawah bahu untuk membantu mencegah fleksi leher dan u
3.Bersihkan jalan nafas atas dengan mengisap mulut terlebih dahulu kemudian hidung, dengan menggunakan blub syringe, alat pengisap lendir, atau kateter pengisap. Perhatikan untuk menjaga bayi dari kehilangan panas setiap saat. Catatan : pengisapan dan pengeringan tubuh dapat dilakukan bersamaan bila air ketuban bersih dari mikonium.
4.Pengisapan yang kontinyu dibatasi 3-5 detik pada satu pengisapan. Mulut diisap terlebih dahulu untuk mencegah aspirasi.
5.   Pengisapan lebih agresif hanya boleh dilakukan jika terdapat mekonium pada jalan nafas (kondisi ini dapat mengarah ke bradikardia). Bila terdapat mekonium dan bayi tidak bugar, lakukan pengisapan dari trakea.
6.   Keringkan, stimulasi, ganti kain yang basah dengan kain yang kering, dan reposisi kepala.
7.   Tindakan yang dilakukan sejak bayi lahir sampai reposisi kepala dilakukan tidak lebih dari 30 detik.
8.   Menilai pernafasan
9.   Jika bayi mulai bernafas secara teratur dan memadai, periksa denyut jantung. Jika denyut jatung > 100 Kali/menit dan bayi tidak mengalami sianosis, hentikan resusitasi. Akan tetapi, jika sianosis, ditemui, berikan oksigen aliran bebas.
e.   Perawatan Lanjutan
1.    Catat nilai afgar untuk menit ke-1 dan ke-5 dalam rekam medik.
2.   Jika bayi memerlukan asuhan intensif, rujuk ke rumah sakit terdekat yang memiliki kemampuan memberikan dukungan neonatus.
3.   Jika bayi dalam keadaan stabil, pindahkan ke ruang neonatal untuk dipantau dan ditindaklanjuti.
4.   Di ruang neonatal, ikuti panduan asuhan neonatus normal untuk pemeriksaan fisik dan tindakan profilaksis. Selain itu, monitor secara ketat tanda vital, sirkulasi, ferfusi, status neurologic, dan jumlah urui, serta pemberian minum ditunda disesuaikan kondisi. Sebagai ganti pemberian minumsecara oral, berikan glukosa 10 % intravena. Uji laboratoriu, seperti analisis darah, glukosa, dan hematokrit 

Dalam keadaan darurat, resusitasi dapat diakhiri bila terdapat salah satu dari berikut :
1.      Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif.
2.      Ada orang lain yang mengambil alih tanggung jawab
3.      Pasien dinyatakan mati
4.      Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir dipastikan  bahwa fungsi serebral tidak akan pulih, yaitu sesudah ½ - 1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar